Surat Terbuka

Kepada Pembaca Yahudi

Merenungkan Yeshua—Yesus—dalam Terang Kitab Suci dan Pengharapan Israel

Sebuah Ajakan Penuh Hormat

Shalom, saudara-saudari yang terkasih,

Kami menulis dengan rasa hormat, kerendahan hati, dan kasih yang tulus.

Iman Kristen berakar dalam sejarah dan Kitab Suci Israel. Yesus adalah seorang Yahudi. Ibu-Nya, para rasul-Nya, dan murid-murid-Nya yang paling awal adalah orang Yahudi. Kitab Suci yang Dia baca dan ajarkan adalah Taurat, Kitab Para Nabi, dan Mazmur.

Kami juga mengakui dengan dukacita bahwa komunitas Yahudi telah mengalami penghinaan, paksaan, dan kekerasan dari orang-orang yang bertindak atas nama Kekristenan. Tindakan-tindakan semacam itu bertentangan dengan ajaran Yesus dan tidak dapat dibenarkan oleh Injil.

Orang Yahudi secara keseluruhan tidak boleh pernah disalahkan atas kematian Yesus. Injil mengajarkan bahwa Dia memberikan nyawa-Nya dengan sukarela karena seluruh umat manusia membutuhkan pengampunan dan pendamaian dengan Allah.

Tujuan kami bukan untuk merendahkan identitas Yahudi atau berpura-pura bahwa Yudaisme dan Kekristenan tidak memiliki perbedaan yang serius. Kami sekadar mengajak Anda untuk merenungkan Yeshua—Yesus—sebagaimana Dia disajikan dalam Injil, dan bertanya apakah Dia mungkin adalah Mesias yang dijanjikan melalui Kitab Suci Israel.

Yesus berkata:

"Kamu menyelidiki Kitab Suci sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal; dan Kitab Suci itulah yang memberi kesaksian tentang Aku."
— Yohanes 5:39

Yesus dalam Kisah Israel

Yesus tidak dapat dipahami terlepas dari Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Dia menegaskan pengakuan utama Israel:

"Dengarlah, hai orang Israel! Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa."
— Markus 12:29; Ulangan 6:4

Dia mengajarkan bahwa perintah yang terutama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati kita dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dia tidak menampilkan diri-Nya sebagai musuh Taurat atau Kitab Para Nabi. Yesus berkata:

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya."
— Matius 5:17

Orang Kristen percaya bahwa Yesus membawa kisah dan pengharapan Israel menuju penggenapannya. Injil muncul di dalam Israel sebelum tersebar kepada bangsa-bangsa lain. Yesus sendiri berkata:

"Keselamatan datang dari bangsa Yahudi."
— Yohanes 4:22

Oleh karena itu, orang Kristen bukan-Yahudi tidak memiliki alasan untuk berbicara dengan sikap sombong terhadap orang Yahudi. Kami telah menerima Kitab Suci, janji-janji, dan Sang Mesias melalui Israel.

Mengapa Orang Kristen Percaya Dia adalah Mesias

Kitab Suci Ibrani mengungkapkan pengharapan akan pembebasan dari Allah: seorang penguasa yang benar dari garis keturunan Daud, seorang raja yang rendah hati, seorang hamba yang membawa keadilan, dan masa depan di mana bangsa-bangsa mencari Allah Israel.

Yesaya menulis:

"Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh Tuhan akan ada padanya."
— Yesaya 11:1–2

Zakharia berbicara tentang seorang raja yang rendah hati:

"Lihat, rajamu datang kepadamu, dengan adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai."
— Zakharia 9:9

Orang Kristen dan pembaca Yahudi tidak menafsirkan setiap bagian mesianik dengan cara yang sama. Perbedaan ini semestinya diakui dengan jujur. Orang Kristen membaca Kitab Suci ini dalam terang kehidupan, ajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus. Kami percaya bahwa pengharapan Israel akan seorang raja, hamba, pembebas, dan sumber berkat bagi bangsa-bangsa menyatu di dalam Dia.

Salah satu perbedaan yang paling mendalam menyangkut hamba yang menderita yang digambarkan oleh Yesaya:

"Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."
— Yesaya 53:5

Para penafsir Yahudi seringkali memahami hamba ini sebagai Israel atau orang-orang yang setia di dalam Israel. Orang Kristen percaya bahwa Yesus secara pribadi mewujudkan dan menggenapi bagian ini melalui penderitaan-Nya.

"Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
— Markus 10:45

Kematian-Nya bukanlah akhir. Para pengikut-Nya yang paling awal memberitakan bahwa Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Mereka memahami kebangkitan-Nya sebagai penegasan dari Allah bahwa Dia adalah Mesias dan Tuhan. Paulus merangkum pesan mereka:

"Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan yang tertulis dalam Kitab Suci, dan Dia telah dikuburkan, dan Dia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan yang tertulis dalam Kitab Suci."
— 1 Korintus 15:3–4

Oleh karena itu, orang Kristen percaya bahwa Yesus datang pertama kali dengan kerendahan hati, memberikan nyawa-Nya karena dosa, dan bangkit dari antara orang mati. Kami menantikan penggenapan penuh Kerajaan Allah.

Perjanjian Baru dan Pengharapan Israel

Melalui Yeremia, Allah berjanji:

"Sesungguhnya, akan datang waktunya," demikianlah firman Tuhan, "aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda." "Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka." "Sebab aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka."
— Yeremia 31:31, 33–34

Janji ini tidak bermusuhan dengan Israel atau perintah-perintah Allah. Janji ini berbicara tentang pengampunan, hati yang diperbarui, dan hubungan yang dipulihkan dengan Allah. Pada perjamuan terakhir-Nya bersama murid-murid-Nya, Yesus berkata:

"Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu."
— Lukas 22:20

Orang Kristen percaya bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus mengawali Perjanjian Baru yang dijanjikan. Melalui Dia, Allah menawarkan pengampunan, pendamaian, Roh-Nya, serta pengharapan akan kebangkitan dan hidup kekal.

Pesan ini bermula di antara para pengikut Yesus yang beragama Yahudi, kemudian menyebar kepada bangsa-bangsa lain. Paulus memperingatkan orang percaya bukan-Yahudi agar tidak pernah menjadi sombong:

"Janganlah kamu bersikap sombong terhadap cabang-cabang itu… bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu."
— Roma 11:18

Dia juga menulis:

"Karena Allah tidak menyesali karunia-karunia dan panggilan-Nya."
— Roma 11:29

Apa pun yang diyakini orang Kristen tentang masa depan Israel, tidak ada tempat dalam iman Kristen bagi antisemitisme, penghinaan, atau kesombongan rohani. Orang percaya bukan-Yahudi harus menanggapi dengan rasa syukur dan kerendahan hati.

Renungkanlah Yeshua

Sahabat yang terkasih,

Kami tidak meminta Anda untuk mengabaikan sejarah, membungkam pertanyaan-pertanyaan sulit, atau menganggap perbedaan-perbedaan yang serius sebagai hal yang tidak penting. Kami mengajak Anda untuk menelaah Yesus dengan jujur.

Bacalah perkataan-Nya. Renungkanlah kehidupan-Nya di dalam kisah Israel. Perhatikanlah belas kasih-Nya, otoritas-Nya, penderitaan-Nya, dan kesaksian bahwa Dia bangkit dari antara orang mati. Tanyakanlah apakah Dia mungkin adalah Dia yang dituliskan oleh Musa dan para nabi. Salah satu murid-Nya yang paling awal, seorang Yahudi, berkata:

"Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat, dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret."
— Yohanes 1:45

Anda dapat memulai dengan Injil Matius, yang sering menghubungkan Yesus dengan Kitab Suci Israel, atau dengan Injil Yohanes, yang secara mendalam berfokus pada jati diri-Nya. Anda juga dapat membaca bersamaan dengan:

  • Yesaya 9:1–7
  • Yesaya 11:1–10
  • Yesaya 52:13–53:12
  • Yeremia 31:31–34
  • Mikha 5:2–5
  • Zakharia 9:9
  • Mazmur 16
  • Mazmur 22

Bagian-bagian ini ditafsirkan secara berbeda, dan tidak setiap pertanyaan itu sederhana. Ajakan ini bukan untuk memaksakan sebuah kesimpulan, melainkan untuk mencari Allah dengan tulus dan mempertimbangkan keseluruhan kesaksian tentang Yesus.

Allah berfirman melalui Yeremia:

"Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati."
— Yeremia 29:13

Kiranya Allah Abraham, Ishak, dan Yakub membimbing kita semua dalam kebenaran, belas kasihan, kerendahan hati, dan kedamaian. Kiranya Dia menolong kita untuk berpaling dari dosa, mengasihi sesama, dan mengenali karya-Nya.

Facebook Twitter LinkedIn

Jelajahi Lebih Lanjut

Maukah Anda Merenungkan Apakah Yeshua adalah Sang Mesias?

Kami akan merasa terhormat untuk membaca Kitab Suci Ibrani dan kisah-kisah Injil bersama Anda, serta mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan yang jujur dengan hormat dan ketulusan.