Sebuah Ajakan Penuh Hormat
Saudara-saudari yang terkasih,
Kami menulis dengan rasa hormat, ketulusan, dan kasih.
Tradisi Hindu sangatlah beragam. Tidak semua orang Hindu memahami Tuhan, ibadah, karma, kelahiran kembali, pembebasan, atau praktik rohani dengan cara yang sama. Sebagian menekankan bhakti (devosi), sebagian lain menekankan pengetahuan, meditasi, atau tindakan yang benar.
Tujuan kami bukan untuk mengejek tradisi-tradisi ini, merendahkan keluarga atau budaya siapa pun, atau menimbulkan permusuhan. Kami sekadar mengajak Anda untuk merenungkan Yesus Kristus sebagaimana Dia dinyatakan dalam Injil—perkataan-Nya, belas kasih-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan hidup yang Dia tawarkan.
Yesus berkata:
"Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan."
Sang Pencipta yang Esa
Sepanjang sejarah, manusia telah mencari kebenaran, kedamaian, kebebasan dari penderitaan, dan hubungan yang benar dengan Yang Ilahi. Alkitab dimulai dengan menyatakan satu Pencipta yang hidup:
"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi."
Allah adalah sumber segala kehidupan, tetapi Dia bukan bagian dari alam semesta dan tidak bergantung padanya. Ciptaan menampilkan hikmat dan kuasa-Nya, namun ciptaan itu sendiri bukanlah Allah.
"Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya... Dialah juga yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang."
Sang Pencipta itu kudus, bijaksana, penuh kasih, adil, dan berbelas kasihan. Dia lebih besar daripada segala gambaran dan segala gagasan manusia tentang-Nya. Namun Dia tidak jauh atau tidak peduli. Dia menciptakan kita untuk mengenal-Nya, mengasihi-Nya, dan mencerminkan kebaikan-Nya.
"Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai semua ujung bumi! Sebab Akulah Allah, dan tidak ada yang lain."
Oleh karena itu, ajakan Kristen adalah seruan bagi setiap hati—termasuk hati kami sendiri—untuk berpaling kepada satu Pencipta itu dan mencari-Nya dengan tulus.
Allah yang Dinyatakan dalam Yesus
Bagaimana Allah yang tidak kelihatan dapat dikenal? Injil mengarahkan kita kepada Yesus Kristus:
"Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan."
Yesus melakukan lebih dari sekadar berbicara tentang Allah. Melalui perkataan-Nya, belas kasih-Nya, kemurnian-Nya, dan otoritas-Nya, Dia menyatakan Bapa. Dia menyembuhkan orang sakit, menyambut mereka yang ditolak, mengampuni orang berdosa, menghadapi kemunafikan, dan memanggil orang kepada pertobatan dan hidup yang baru. Yesus berkata:
"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa."
Orang Kristen tidak percaya bahwa Yesus adalah salah satu dari sekian banyak manifestasi ilahi. Injil membuat klaim yang unik: Firman yang kekal, yang bersama-sama dengan Allah, masuk ke dalam kehidupan manusia dalam diri Yesus Kristus.
"Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah." "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita."
Ketika orang Kristen menyebut Yesus sebagai Anak Allah, kami tidak bermaksud bahwa Allah menghasilkan seorang anak melalui hubungan jasmani. Sebutan ini menggambarkan hubungan yang unik dan kekal antara Yesus dan Bapa. Sang Anak datang dari Bapa, menyatakan Bapa dengan sempurna, dan membawa kita mendekat kepada-Nya.
Yesus tidak menampilkan diri-Nya hanya sebagai salah satu guru bijaksana atau salah satu jalan rohani di antara banyak jalan lain. Dia berkata:
"Akulah jalan, kebenaran, dan hidup; tidak ada seorang pun sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku."
Dia memanggil kita untuk datang kepada-Nya secara pribadi, mempercayai-Nya, mendengarkan perkataan-Nya, dan mengikuti-Nya.
Pengampunan dan Hidup yang Baru
Kita semua tahu bahwa tindakan kita memiliki konsekuensi. Pilihan-pilihan kita membentuk hati kita dan memengaruhi orang lain. Namun Injil mengajarkan bahwa masalah kita yang paling mendalam bukan sekadar sebuah ketidakseimbangan yang dapat diperbaiki melalui cukup banyak perbuatan baik, pengetahuan, disiplin, atau devosi.
Kita telah berdosa terhadap Allah dan terhadap sesama. Perbuatan baik kita memang penting, tetapi tidak dapat menghapus masa lalu atau membuat hati menjadi sepenuhnya murni. Kita membutuhkan pengampunan.
Inilah sebabnya Yesus datang—bukan hanya untuk mengajar kita, tetapi untuk memberikan nyawa-Nya bagi kita.
"Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran."
Di kayu salib, Yesus menanggung dosa-dosa kita. Melalui kebangkitan-Nya, Dia mengalahkan maut dan membuka jalan menuju pendamaian dengan Allah.
Oleh karena itu, keselamatan adalah karunia anugerah. Keselamatan bukanlah sesuatu yang kita peroleh melalui pencapaian rohani atau keunggulan moral. Kita menerimanya dengan berpaling kepada Allah, mempercayai Yesus Kristus, dan membiarkan Roh-Nya memperbarui kita.
"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru."
Hidup baru ini bukanlah siklus keberadaan duniawi yang lain. Ini adalah hidup bersama Allah yang dimulai sekarang dan menuju kepada kebangkitan serta hidup kekal di hadirat-Nya.
Melalui Kristus, Allah mengampuni kita, mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya, dan memberikan Roh-Nya untuk tinggal di dalam kita. Ini tidak berarti kita menjadi Allah atau kehilangan jati diri kita masing-masing. Ini berarti bahwa Allah yang hidup mendekat, memperbarui hati kita, mengajarkan kita untuk mengasihi, dan memampukan kita untuk hidup dalam kekudusan.
"Kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Di dalam Roh itu kita berseru: 'ya Abba, ya Bapa!'"
Mengenal Allah adalah lebih dari sekadar mengalami suatu keadaan rohani. Mengenal Allah berarti didamaikan dengan Sang Pencipta kita dan berjalan bersama-Nya dalam kebenaran, kerendahan hati, kasih, dan kesetiaan.
Mengikuti Yesus
Mengikuti Yesus bukan sekadar menerima label Kristen. Mengikuti Yesus berarti menerima Dia sebagai Tuhan dan belajar hidup sebagaimana yang Dia ajarkan.
Yesus memanggil kita untuk mengasihi Allah, mengasihi sesama, mengampuni mereka yang menyakiti kita, memperhatikan mereka yang menderita, berkata benar, berpaling dari dosa, dan tetap setia bahkan ketika hal itu sulit dilakukan. Dia berkata:
"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."
Mengikuti Kristus tidak berarti merendahkan keluarga, budaya, atau sesama kita. Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi orang lain, mengupayakan kedamaian, dan menunjukkan belas kasihan. Namun Dia juga memanggil kita untuk menempatkan kebenaran di atas kesombongan, ketakutan, tekanan sosial, dan asumsi yang diwariskan turun-temurun.
Semakin dekat kita bertumbuh kepada Kristus, semakin kita seharusnya bertumbuh dalam kerendahan hati, kesabaran, belas kasih, kekudusan, dan kasih.
Renungkanlah Yesus
Sahabat yang terkasih,
Kami mengajak Anda untuk membaca Injil dan merenungkan Yesus bagi diri Anda sendiri. Janganlah berasumsi bahwa Dia hanyalah salah satu pengajar, guru, avatar, nabi, atau pendiri agama di antara banyak yang lain.
Tanyakanlah:
- Mengapa Yesus berbicara dengan otoritas yang demikian?
- Mengapa Dia mengampuni dosa?
- Mengapa Dia memanggil orang untuk datang langsung kepada-Nya?
- Mengapa Dia dengan sukarela memberikan nyawa-Nya?
- Mengapa murid-murid-Nya memberitakan bahwa Dia bangkit dari antara orang mati?
- Apa maksud-Nya ketika Dia berkata bahwa Dia adalah jalan kepada Bapa?
Anda dapat memulai dengan Injil Yohanes, yang secara mendalam berfokus pada jati diri Yesus. Anda juga dapat membaca Injil Lukas, yang menyajikan belas kasih, ajaran, kematian, dan kebangkitan-Nya.
Mintalah kepada Pencipta langit dan bumi untuk membimbing Anda kepada kebenaran. Yesus berkata:
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu."
Yesus mengundang mereka yang berbeban berat untuk menerima kelegaan, mereka yang bersalah untuk menerima pengampunan, mereka yang haus secara rohani untuk menerima hidup, dan mereka yang berjalan dalam kegelapan untuk masuk ke dalam terang-Nya. Dia berkata:
"Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."
Kiranya satu Pencipta itu membimbing kita semua dalam kebenaran, kerendahan hati, belas kasihan, dan kasih. Kiranya Dia menolong kita untuk merenungkan Yesus dengan tulus dan menanggapi-Nya dengan hati yang terbuka.