Surat Terbuka

Kepada Ateis, Agnostik, dan Para Pencari

Merenungkan Yesus melalui Sejarah, Akal Budi, dan Pertanyaan yang Jujur

Sebuah Ajakan Penuh Hormat

Saudara-saudari yang terkasih,

Kami menulis dengan rasa hormat, ketulusan, dan kasih.

Orang meragukan atau menolak keyakinan akan Allah karena berbagai alasan. Sebagian menganggap bukti yang ada tidak meyakinkan. Sebagian bergumul dengan penderitaan atau kesunyian Allah yang tampak. Sebagian lain telah terluka oleh kemunafikan agama, penyalahgunaan, tekanan, atau jawaban dangkal atas pertanyaan-pertanyaan yang serius.

Kami tidak berasumsi bahwa mereka yang tidak percaya itu tidak jujur, tidak bermoral, atau tidak mau mencari kebenaran. Pertanyaan yang jujur layak mendapatkan pertimbangan yang jujur pula.

Ajakan kami sederhana: Renungkanlah Yesus Kristus dengan saksama. Telaahlah kehidupan-Nya, perkataan-Nya, kematian-Nya, dan klaim bahwa Dia bangkit dari antara orang mati. Kekristenan sendiri menyatakan bahwa segala sesuatu bergantung pada klaim ini:

"Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu."
— 1 Korintus 15:14

Iman Kristen tidak hanya bersandar pada gagasan yang menenangkan atau perasaan pribadi. Iman Kristen mengklaim bahwa Allah bertindak dalam sejarah melalui Yesus dari Nazaret. Klaim itu tidak layak diterima secara otomatis, tetapi juga tidak layak diabaikan begitu saja.

Mengapa Merenungkan Yesus?

Banyak orang mengagumi Yesus sebagai seorang guru yang bijaksana atau simbol belas kasih. Namun Injil menampilkan-Nya sebagai jauh lebih dari itu. Yesus menyambut mereka yang ditolak, menantang kemunafikan agama, mengampuni dosa, memberitakan Kerajaan Allah, dan memanggil orang untuk mengikuti-Nya. Dia berkata:

"Akulah jalan, kebenaran, dan hidup; tidak ada seorang pun sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku."
— Yohanes 14:6

Dia tidak sekadar mengatakan bahwa Dia mengetahui sebuah jalan menuju kebenaran. Dia mengklaim bahwa kebenaran dan hidup ditemukan di dalam Dia. Dia juga mengundang orang-orang yang lelah:

"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."
— Matius 11:28

Oleh karena itu, Yesus harus ditelaah sesuai dengan istilah-Nya sendiri. Apakah Dia disalahpahami? Apakah klaim-klaim-Nya keliru? Atau apakah Dia sungguh-sungguh lebih dari sekadar guru biasa? Pertanyaan ini tidak dapat dijawab hanya dengan mengagumi beberapa perkataan moral-Nya sambil mengabaikan apa yang Dia katakan tentang diri-Nya sendiri.

Sejarah dan Kebangkitan

Sebagian besar sejarawan zaman kuno menerima bahwa Yesus benar-benar ada dan disalibkan di bawah pemerintahan gubernur Romawi, Pontius Pilatus. Sumber utama kita adalah surat-surat Paulus, keempat Injil, tulisan-tulisan Kristen awal lainnya, serta referensi-referensi kemudian dari penulis Yahudi dan Romawi.

Para penulis Perjanjian Baru adalah orang Kristen, tetapi hal itu tidak membuat kesaksian mereka tidak bernilai. Pada saat yang sama, tulisan-tulisan mereka semestinya ditelaah dengan saksama, bukan diperlakukan seperti transkrip modern. Lukas menjelaskan alasannya menulis:

"Sebab itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan saksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu."
— Lukas 1:3

Para akademisi terus memperdebatkan tanggal penulisan, kepenulisan, sumber, dan beberapa perincian dari kisah-kisah Injil. Orang Kristen semestinya mengakui diskusi-diskusi ini dengan jujur.

Pertanyaan sejarah yang utama tetap ada: Mengapa para pengikut Yesus yang paling awal menjadi yakin bahwa Dia telah bangkit dari antara orang mati? Paulus mencatat sebuah pemberitaan Kristen yang awal:

"Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan yang tertulis dalam Kitab Suci, dan Dia telah dikuburkan, serta dibangkitkan pada hari yang ketiga."
— 1 Korintus 15:3–4

Dia kemudian menyebutkan penampakan-penampakan kepada Petrus, para rasul, Yakobus, dan lebih dari lima ratus orang percaya sekaligus:

"Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal."
— 1 Korintus 15:6

Referensi Paulus kepada para saksi yang masih hidup menunjukkan bahwa dia menyajikan kebangkitan sebagai klaim publik yang terbuka untuk diperiksa, bukan sekadar pengalaman rohani yang pribadi. Keyakinan akan kebangkitan tidak diciptakan berabad-abad kemudian. Keyakinan ini muncul sejak awal mula gerakan Kristen.

Injil-Injil juga melaporkan sebuah kubur yang kosong dan perjumpaan dengan Yesus setelah kematian-Nya. Tidak setiap sejarawan menafsirkan kisah-kisah ini dengan cara yang sama. Sebagian menerima kubur kosong itu sebagai hal yang mungkin secara historis, sementara yang lain tetap tidak yakin. Penampakan-penampakan yang dilaporkan telah dipahami sebagai perjumpaan yang sungguhan, penglihatan, pengalaman psikologis, atau tradisi yang berkembang.

Banyak pengikut Yesus yang paling awal menghadapi perlawanan, pemenjaraan, dan penganiayaan karena memberitakan kebangkitan-Nya. Perjanjian Baru mencatat eksekusi rasul Yakobus, sementara kesaksian Kristen awal sangat mendukung bahwa Petrus dan Paulus juga dibunuh. Beberapa rasul lainnya dikenang sebagai martir, dan banyak yang menanggung perlawanan serta penderitaan sambil terus memberitakan apa yang mereka yakini telah mereka saksikan. Penderitaan mereka tidak dengan sendirinya membuktikan kebangkitan, tetapi hal itu menunjukkan bahwa keyakinan mereka tulus, terbuka, dan berharga mahal.

Orang Kristen semestinya tidak mengklaim bahwa semua sejarawan setuju bahwa Yesus bangkit. Mereka tidak setuju. Namun tidak adil pula untuk menolak kebangkitan hanya dengan mengatakan bahwa mukjizat itu mustahil. Menolak kebangkitan semata-mata karena mukjizat dianggap tidak mungkin terjadi berarti telah mengasumsikan kesimpulannya terlebih dahulu.

Pertanyaan yang jujur adalah: Apa yang paling baik menjelaskan kesaksian awal, penampakan-penampakan yang dilaporkan, dan transformasi para pengikut Yesus—dan mungkinkah realitas mencakup lebih dari sekadar proses-proses alami semata? Orang Kristen percaya bahwa Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati dan menegaskan Dia sebagai Tuhan.

Pertanyaan-Pertanyaan yang Penting

Apakah Sains Membuat Allah Tidak Diperlukan?

Sains memberi kita pengetahuan yang luar biasa tentang bagaimana dunia alami bekerja. Keyakinan akan Allah semestinya tidak pernah menggantikan penyelidikan ilmiah. Namun Allah tidak diajukan sebagai objek fisik lain di dalam alam semesta. Pertanyaan tentang Allah menyangkut mengapa alam semesta ini ada sama sekali dan mengapa alam semesta tertata sedemikian rupa sehingga dapat dipahami oleh akal budi manusia.

Sains mempelajari cara kerja realitas. Sains dengan sendirinya tidak menjawab setiap pertanyaan tentang sumber atau makna terakhir dari realitas itu. Kekristenan mengajukan bahwa alam semesta dapat dipahami karena alam semesta berasal dari seorang Pencipta yang rasional:

"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi."
— Kejadian 1:1
Bagaimana dengan Penderitaan?

Penderitaan adalah salah satu tantangan terkuat bagi keyakinan akan Allah yang penuh kasih. Penyakit, kekerasan, penyalahgunaan, bencana, ketidakadilan, dukacita, dan penderitaan anak-anak tidak dapat dijawab dengan kalimat-kalimat mudah. Alkitab sendiri memuat teriakan-teriakan kesakitan:

"Berapa lama lagi, ya Tuhan? Akankah Engkau melupakan aku untuk selama-lamanya?"
— Mazmur 13:1

Kekristenan tidak memberikan penjelasan sederhana untuk setiap tragedi. Tanggapan utamanya adalah Yesus. Injil mengklaim bahwa Allah tidak tetap jauh dari penderitaan. Di dalam Kristus, Dia mengalami penolakan, dukacita, ketidakadilan, sakit jasmani, dan kematian. Yesus menangis. Dia dikhianati. Dia disalibkan.

Salib tidak menjelaskan setiap peristiwa yang menyakitkan, tetapi salib menunjukkan bahwa Allah tidak acuh terhadap penderitaan manusia. Kebangkitan kemudian menyatakan bahwa kematian dan kejahatan tidak akan memiliki kata akhir.

Mengapa Allah Tidak Lebih Nyata?

Sebagian orang dengan tulus mencari Allah dan tetap mengalami kesunyian. Mereka semestinya tidak secara otomatis dituduh sombong atau tidak jujur. Bahkan para penulis Alkitab pun bertanya:

"Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu?"
— Mazmur 44:24

Kekristenan mengajarkan bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya melalui ciptaan, hati nurani, Kitab Suci, dan yang paling lengkap melalui Yesus Kristus. Namun pernyataan ini tidak menghapus setiap ketidakpastian atau memaksakan keyakinan kepada setiap orang.

Sebuah doa yang sederhana dan jujur mungkin berbunyi:

Allah, jika Engkau nyata, tolonglah aku mengenali apa yang benar.

Ini tidak menuntut Anda berpura-pura sudah percaya. Ini mengungkapkan keterbukaan.

Renungkanlah Yesus bagi Diri Anda Sendiri

Sahabat yang terkasih,

Kami tidak meminta Anda untuk menekan keraguan atau memaksakan kepastian. Kami mengajak Anda untuk membaca salah satu Injil dan merenungkan Yesus dengan jujur.

Anda dapat memulai dengan:

  • Markus, kisah yang paling singkat dan langsung;
  • Lukas, yang menekankan belas kasih dan latar sejarah;
  • Yohanes, yang secara mendalam berfokus pada jati diri Yesus.

Tanyakanlah:

  • Pribadi macam apakah Yesus itu?
  • Bagaimana Dia memperlakukan mereka yang lemah, bersalah, sombong, dan ditolak?
  • Mengapa Dia mengampuni dosa?
  • Mengapa Dia mengundang orang untuk datang langsung kepada-Nya?
  • Mengapa Dia disalibkan?
  • Apa yang diyakini oleh para pengikut-Nya yang paling awal terjadi setelahnya?
  • Apa artinya jika Dia sungguh-sungguh bangkit dari antara orang mati?

Bacalah Injil itu sendiri, bukan hanya argumen-argumen dari orang percaya atau skeptis. Ikutilah bukti itu dengan kerendahan hati dan biarkan asumsi-asumsi Anda sendiri dipertanyakan.

Anda juga dapat berdoa:

Allah, jika Engkau nyata, tuntunlah aku menuju kebenaran.
Tolonglah aku melihat Yesus sebagaimana Dia sesungguhnya.
Berilah aku keberanian untuk menanggapi dengan tulus.

Inti pesan Kristen adalah ini: Allah menciptakan kita dan tidak meninggalkan kita. Manusia telah berpaling dari-Nya dan saling menyakiti melalui sikap mementingkan diri sendiri, kesombongan, ketidakadilan, dan dosa. Yesus Kristus masuk ke dalam dunia kita, mengasihi tanpa kemunafikan, memberikan nyawa-Nya bagi orang-orang berdosa, dan bangkit dari antara orang mati. Melalui Dia, Allah menawarkan pengampunan, pendamaian, hidup yang baru, dan pengharapan yang kekal.

"Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus."
— 2 Korintus 5:19

Jika Yesus tidak bangkit, klaim utama Kekristenan gugur. Jika Dia bangkit, Dia tidak mungkin tetap sekadar seorang guru menarik dari masa lalu. Dia adalah Tuhan yang hidup, yang memanggil kita untuk mempercayai-Nya dan menerima hidup.

Facebook Twitter LinkedIn

Jelajahi Lebih Lanjut

Maukah Anda Menelaah Yesus Bersama Kami?

Kami akan senang membaca sebuah Injil bersama Anda dan mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan yang jujur tentang Yesus tanpa tekanan atau permusuhan. Marilah kita mencari kebenaran dengan kerendahan hati, akal budi, dan rasa hormat.